Kios Pasar Sore dan cerita-cerita orang yang terabaikan

Kios Pasar Sore merupakan buku terbaru dari Reda Gaudiamo, penulis senior yang sangat berbakat. Buku ini pertama kali terbit pada Oktober 2025, yang isinya merupakan kumpulan cerita pendek. Di bawah naungan Shira Media selaku penerbitnya, buku ini mendapat sambutan yang sangat baik dari para pembaca. Selain viral di media sosial, buku ini juga berhasil cetak ulang terus menerus bahkan di bulan dan tahun yang sama. Kebetulan buku yang saya miliki ini cetakan ke-19. Dari hal tersebut, buku Kios Pasar Sore memiliki daya tarik yang dapat menjangkau banyak pembaca dan penikmat karya sastra. Tapi, apa benar buku Kios Pasar Sore sebagus itu?

Dokumen Pribadi 

Karya sastra yang baik adalah karya yang penuh dengan nilai humanisme atau kemanusiaan, karena sifat dari karya sastra itu sendiri adalah mimesis atau tiruan dari realitas masyarakat, salah satu karya yang mengangkat nilai humanis itu sendiri adalah buku Kios Pasar Sore karya Reda Gaudiamo. Dalam buku Kios Pasar Sore, Reda Gaudiamo berhasil menuliskan 31 cerita pendek dengan bahasa yang amat sangat sederhana dan mudah dipahami. Namun, meski dengan bahasa yang sederhana, buku ini sangat kompleks dan memang begitu seharusnya sebagai karya sastra, sehingga setiap orang yang membaca buku ini dapat meresapi nilai-nilai kehidupan, keberagaman, dan kebersamaan.

Meski di dalamnya menghimpun banyak cerita pendek, Reda Gaudiamo tetap konsisten mengangkat tema yang sama di masing-masing ceritanya, yakni orang-orang biasa. Siapa orang-orang biasa itu? Dalam buku Kios Pasar Sore, cerita berfokus pada orang-orang biasa, bukan orang-orang besar, mereka adalah orang-orang yang sering diabaikan dalam kehidupan sosial, seperti sopir, satpam sekolah, bahkan pemulung. Mereka semua diceritakan dalam buku yang tipis ini, dengan penceritaan yang hangat dan sangat manusiawi, sehingga para pembaca nantinya akan mudah tersentuh dengan kisah-kisah dari orang-orang biasa ini. Tak lupa juga, Reda Gaudiamo tetap menyisipkan humor-humor, alhasil selain membuat kita peka kepada kehidupan mereka, ketika membaca buku ini kita juga akan tetap terhibur.

Membaca buku Kios Pasar Sore atau buku-buku Reda Gaudiamo yang lain seperti Na Wila, pembaca akan dibuat kagum bagaimana gaya penceritaan beliau. Ketika menikmai buku ini dengan penuh penghayatan, pembaca akan merasa bahwa cerita-cerita yang disajikan, seperti mendengarkan kisah yang langsung dituturkan oleh Bu Reda. Hal ini terasa sangat masuk akal, karena Bu Reda juga aktif bermusik dan juga dikenal sebagai Ibu Virtual yang sering menyapa pengikutnya dengan “Hai Nak” di seluruh media sosial miliknya. Dari kedekatan ini, menghadirkan kehangatan antara Bu Reda dengan penggemarnya sehingga para pembaca terlebih saya seakan merasakan didongengkan kembali oleh seorang ibu sebelum tidur.

Dari sekian banyak cerita yang tersaji, salah satu yang menjadi favorit saya sejauh ini adalah cerita dengan judul Ross dan Joko. Cerita Ross dan Joko menurut saya cukup jenaka namun tetap mengandung nilai, bercerita tentang Tante Ross yang hendak cerai dengan Joko, suaminya. Konflik yang terjadi antara kedua pasangan tersebut disebabkan Joko yang tak pernah mengucapkan I Love You kepada Ross seperti yang diucapkan Shakh Rukh Khan kepada Kajol. Mendengar alasan tersebut, keluarganya hanya tertawa, memang Ross sangat tergila-gila dengan bintang film India tersebut, hingga disadarkan bahwa Ross sudah dibutakan oleh film-film tersebut, “itu hanya film Ross!” ucap Ma. Dari ucapan tersebut, akhirnya mereka pun tidak jadi bercerai dan keduanya bermesra kembali secara ril bukan seperti film-film.

Membaca buku ini memang terkadang membuat tidak sadar bahkan ketika sudah membaca lima cerita pendek atau lebih. Hal ini dikarenakan, selain cerita dalam buku Kios Pasar Sore cenderung pendek, penulisannya pun tidak menggunakan banyak majas atau metafora, inilah yang menjadi kelebihan dari buku Kios Pasar Sore. Dari kesederhanaan gaya penulisannya, ketika membaca buku ini membuat kita terasa dekat dengan cerita-cerita yang disajikan. Oleh karena itu, buku ini sangat ramah dibaca oleh para pemula yang ingin memulai menyelami dunia sastra Indonesia. Dengan membaca buku ini, saya pastikan teman-teman semua akan terus mengikuti seluruh ceritanya tanpa merasa terbebani dengan “bukunya susah dibaca!” atau “ah buku apaan tebel banget!”.

Di sisi lain, melihat keringkasan dari cerita-cerita yang dihadirkan dalam buku Kios Pasar Sore menjadi kekurangan yang sangat tampak. Dari ke 31 cerita, akan lebih kompleks jika hanya berjumlah 10 cerita pendek dengan pendalaman karakter dan pembangunan dunia cerita yang menggelegar. Hal ini saya utarakan, karena seharusnya banyak cerita yang bisa dijadikan satu cerita dan perlu digali lebih dalam konflik yang akan dibuat dalam cerita sehingga dapat menyentuh emosi pembaca lebih dalam.

Secara keseluruhan, saya memberikan nilai 4 dari 5 untuk buku Kios Pasar Sore. Mungkin memang hal yang disengaja oleh Bu Reda Gaudiamo untuk menghadirkan cerita dan konflik yang ringan dengan penulisan yang sederhana agar dapat menjangkau lebih banyak pembaca. Sebagai penutup, saya sangat menyarankan buku ini dibaca oleh siapa pun dan di mana pun, karena memang bukunya yang tipis dan ceritanya yang pendek, hingga buku ini bisa dibaca di sela sempit hidup ini. Pada akhirnya saya juga berterima kasih kepada Bu Reda yang berhasil menyuarakan perasaan orang-orang biasa. Sebab siapa yang tahu, entah anda atau pembaca yang lain, justru merasa terwakilkan dengan hadirnya buku ini.

 

Komentar

Postingan Populer