Me-review Si Lelaki Harimau Eka Kurniawan
Novel Lelaki Harimau ini lahir di tahun yang sama dengan kali pertama saya menangis ini di dunia. Patutlah novel ini diapresiasi oleh para pembacanya dan wajar apabila sudah diterjemahkan ke beberapa bahasa karena teramat bagus ceritanya. Selamat untuk Mas Eka Kurniawan yang dengan apik menulis novel ini dan tepat pula saya membacanya di umur yang sama dengan novel dewasa tersebut.
Pada lanskap yang sureal, Margio adalah bocah yang menggiring babi ke dalam perangkap. Namun di sore ketika seharusnya rehat menanti musim perburuan, ia terperosok dalam tragedi pembunuhan paling brutal. Di balik motif-motif yang berhamburan antara cinta dan pengkhianatan, rasa takut dan berahi, bunga dan darah, ia menyangkal dengan tandas. "Bukan aku yang melakukannya," ia berkata dan melanjutkan, "Ada harimau di dalam tubuhku."
Premis sederhana ini dapatlah dibaca sebagai pembuka dalam memulai novel ini yang tidak terlampau tebal dan teramat tipis, seluruh cerita diolah dengan bijak dengan penceritaan yang dibawa pelan-pelan tidak tergesa-gesa oleh pembawa acara yang tahu segalanya (sudut pandang ketiga) namun tetap penuh rahasia. Mengutip Jon Fasman, memang betul adanya bahwa novel ini harus diselesaikan dengan sekali duduk karena lantaran kisahnya yang penuh dramatik dan dibungkus dengan ketegangan dari tiap tokohnya.
Permasalahan tidak dimulai dari rumah 131, dari kesenangannya ketika Nuraeni dijodohkan oleh ayahnya, perlahan memendam kekecewaan kepada Komar bin Syueb yang tak kunjung mengiriminya surat pada masa pacarannya silam. Hingga pasca pernikahannya, karena ia idak ingin mengecewakan orang rumah, Nuraeni turut saja pada Komar dengan tinggal bersama keluarganya dari satu petak ke petakan lain yang didapatkan seharga 6 gram emas dengan dalih ini rumah kita namun yang tampak hanyalah sebuah kandang babi. Kehidupan pun dimulai dengan terbaginya peran Komar sebagai kepala keluarga, Nuraeni sebagai istri sekaligus ibu, kemudian Margio sebagai sulung dan Mameh si adik.
Tidak seperti kehidupan desa yang utopis, Margio dan Mameh tidak besar dengan kasih sayang, Margio kerap kali dihadiahkan cambukan oleh ayahnya yang bengis apabila tidak menurutinya. Sementara ibu selalu terlihat sinting, bukannya melerai hal tersebut justru ia selalu saja mengoceh pada kompor, pada panci yang berkarat, di ruang belakang yakni dapur gelapnya. Dengan gejolak batin yang berkecamuk, Margio tidak menuruti Margio Jahat maupun Margio Baik dan memilih untuk pergi dari rumah itu, dengan kemantapan hati "aku takut kali ini sungguh-sungguh kubunuh seseorang."
Tema binal lebih menjual? umumnya memang itu yang terjadi di sejtor mana pun, baik sastra, musik, atau film. Sering kali para pengarang hanya menginginkan keuntungan belaka, tak heran banyak sebuah karya yang lahir karena minat pasar kala itu sedang tren atau jika tidak demikian pastilah karya tersebut menjual perempuan sebagai objektivitas belaka. Mengutip lagu Efek Rumah Kaca, seharusnya sebuah lagu tidak harus tentang cinta melulu, begitu pun pada cover albumnya karya Angki Purbandono bahwa sebuah karya fotografi tidak melulu ditangkap dengan kamera tetapi bisa juga dengan media scanner, kelanjutannya konsep ini dikenal dengan scanography. Dari kasus demikian, memang memunculkan problem tersendiri pada seniman, namun dalam melahirkan sebuah karya haruslah memiliki pesan atau gagasan yang harus tersampaikan kepada para penikmatnya, ingat sebuah karya yang unik akan menarik para peminatnya sehingga para seniman harusnya lebih menaikkan nilai atau value karyanya ketimbang mengikuti arus pasar yang nantinya pudar atau menjual kisah binal yang kuno dan tertinggal.
Bagaimana Eka Kurniawan dalam berkarya? Tidak untuk menilai atau menghakimi, tentu usia saya terpaut jauh dengan beliau dan pandangan yang saya utarakan ini berdasarkan apa yang saya baca terhadap novel Mas Eka, jadi tidak ada benar atau salah. Menurut Sapri (saya pribadi) Mas Eka ini selalu menuliskan novel dengan genre yang diperuntukkan para pembaca yang sudah dewasa, dan memang demikian adanya karena novel-novel beliau dilabeli 21+. Perlu diketahui bahwa genre dengan label dewasa tidak melulu tentang berahi dan selangkangan, lebih dari itu label ini memungkinkan untuk menggali lebih dalam tema yang akan dibahas seperti pencarian jati diri, moralitas, hingga sistem sosial. Dengan demikian saya lihat, Mas Eka dewasa ini sudah alih haluan yang terlihat pada novel terbarunya AMKM yang secara kompleks tidak lagi membawa tema birahi dan selangkangan.
Berbeda dengan Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (2024) novel terbaru Eka Kurniawan ini sudah lebih dewasa menurut saya. Hal tersebut tentu saya bandingkan dengan membaca tulisan klasiknya - Cantik itu Luka (2002) dan Lelaki Harimau (2004) - saya seakan melihat keganasan Mas Eka yang kala itu jiwa mudanya masih membara dan menderu-deru yang dipengaruhi entah karena sebuah luka atau cinta. Apa pun alasannya Mas Eka terus menulis dengan gaya dan tema yang sama hingga lahirlah novel Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014). Tetapi apa benar itulah sosok asli Mas Eka? saya belum dapat menjawabnya karena mungkin saja pandangan saya akan berubah ketika di kemudian hari saya membaca novel O (2016) dan barangkali kedewasaan Eka sudah dimulai sejak novel O bukan novel AMKM atau sebaliknya. Namun besar saya berharap sikap pendewasaan Eka ini benar adanya dan berlanjut di kemudian hari yang tertuang dalam novel terbarunya kelak, dikarenakan sering kali para kawula muda yang membaca karya-karya Mas Eka mengesampingkan label 21+.

Komentar
Posting Komentar