SASTRA SERIUS DAN TIDAK SERIUS

Sering kali kita mendengar di media sosial terkait istilah 'novel sastra' dan 'novel non-sastra'. Apa itu salah? Tidak salah, hanya saja kurang tepat. Begitu juga dengan istilah 'sastra serius' yang lawannya adalah 'sastra non-serius'?, Jelas bukan?

Kita semua sepakat bahwa kesusastraan modern membagi tiga jenis karya sastra, yaitu prosa, puisi, dan drama. Fokus kita kali ini adalah prosa yang terbagi lagi bentuk-bentuknya, seperti novel, cerpen, roman, dll. Jadi kita sepakati dulu bahwa jelas novel adalah satu dari bentuk karya sastra, yang oleh karena itu istilah novel sastra saya rasa kurang tepat. Itu sama seperti kita bilang 'tempe kedelai' yang jelas bahwa tempe adalah dari kacang kedelai. 

Lalu istilah yang tepat bagaimana? Sebenarnya setiap orang bebas menciptakan istilahnya masing-masing, ya. Hanya pada kasus ini, saya akan condong kepada istilah 'novel serius' atau 'sastra serius' yang kebalikannya adalah 'novel pop' atau 'sastra populer'. Istilah 'sastra serius' saya temukan pertama kali di buku Teori Pengkajian Fiksi karya Burhan Nurgiyantoro, yang membandingkan antara 'sastra serius' dengan 'sastra populer'. Untuk menyesuaikan konteks, kita gunakan istilah yang lebih mengerucut saja, yakni 'novel serius' dan 'novel pop'. 

Nurgiyantoro menjelaskan bahwa sastra serius (sastra yang "sastra") merupakan kebalikan dari sastra populer. Sastra populer merupakan media perekam kehidupan sesaat atau yang saat ini artinya tidak lintas zaman dan sarat akan nilai kehidupan di dalamnya dengan tujuan sekadar menghibur. Namun, tidak semua sastra populer (novel populer) justru digandrungi oleh banyak pembaca, mungkin dibuat hanya sekadar ikut-ikutan pasar saja. Di sisi lain, novel serius tidak hanya memberikan hiburan saja, tetapi memberikan pengalaman yang berharga kepada pembaca yang disusun berdasarkan hasil riset dan penelitian mendalam, tidak serta-merta khayalan dalam kepala semata, serta mengajak pembaca agar meresapi dan merenungkan terkait masalah yang diangkat. 

Pada dasarnya banyak yang membedakan antara sastra populer dengan sastra serius. Sastra serius menekankan pengungkapan hakikat kehidupan secara mendalam, menawarkan banyak kemungkinan makna, dan menggunakan manipulasi artistik serta rasa sastra. Karya ini bersifat tahan lama, tidak lekas usang, serta membutuhkan konsentrasi tinggi dari pembaca. Pembacanya tidak banyak karena sastra serius tidak mengikuti selera pasar.

Sebaliknya, sastra populer hanya merekam kehidupan secara langsung tanpa pendalaman, lebih mengutamakan hiburan, dan bersifat artifisial atau mudah dilupakan. Ceritanya ringan, mudah dipahami, dan mengikuti selera pembaca sehingga memiliki jumlah pembaca lebih besar, meskipun tidak mengejar efek estetika yang kompleks.

Penyunting: @akmalwa

#sastra #literatur #sastrapopuler

Komentar

Postingan Populer