Perempuan Menolak Penghapusan Sejarah Pemerkosaan Massal

Merayakan 20th Sihir Perempuan 

Tepatnya pada 14 Juli 2025 kemarin, saya dapat menghadiri perayaan 20th kumpulan cerpen Sihir Perempuan karya Mba Intan Paramaditha yang terselenggara di Aula PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki. Awalnya tidak ingin ke sana karena tahu jika saya berangkat saya akan terlambat, acara mulai pukul 15.00 pada jam yang sama saya juga baru bergerak. Naasnya sampai di sana pada pukul 15.25 ternyata saya orang ke 109 wow sangat memalukan untungnya masih diperbolehkan masuk.


Sya tidak tahu bagaimana acara dimulai, ketika sampai saat itu mba Intan sedang membacakan orasi, kurang lebih 5 orasi yang dibawakan yang mana orasinya menjelaskan tentang perjuangan perempuan dalam cerpen karangan beliau. Cerpennya sendiri berjumlah 11 cerpen, namun di cetakan terbarunya beliau menambahkan dua cerpen baru. Untuk yang terbitan lama sudah saya baca keseluruhannya, yang paling menarik tentu cerpen berjudul "Mak Ipah dan Bunga-bunga" cerpen tersebut mengisahkan Mak Ipah yang dianggap gila oleh tetangganya karena kerap kali berbicara dengan kebun bunga di halaman rumahnya namun naas tidak ada yang megetahui sebab demikian itu dan cerpen tersebut dibawakan juga dalam narasinya, mba Intan mengatakan "tapi kita masih di sini, membaca menulis menyebut nama yang dibungkam, kita merawat satu sama lain kita mengingat bahwa jika keadilan tidak turun dari langit ia harus dirajut dari bawah oleh tangan yang gemetar oleh mulut yang bertanya "mengapa", mak ipah tidak diam kita juga tidak." 


Mak Ipah adalah satu dari tokoh dalam cerpen 'Bunga' yang merupakan korban, ia kehilangan anaknya yang mati karena diperkosa, baik Ibu maupun anaknya keduanya sama-sama tidak mendapatkan keadilan. Dalam orasinya, Mbak Intan juga menanggapi isu yang belakangan dibicarakan yakni pembungkaman korban pemerkosaan massal dalam tragedi 1998 yang mana hal tersebut disangkal oleh Mentri Kebudayaan Fadli Zon. Mbak Intan mengajak kita dalam orasinya untuk terus merajut keadilan untuk para korban dikarenakan keadilan tidak turun dari langit apalagi dari tangan penguasa, untuk itu kita harus terus menyuarakan hak, menulis, dan membaca guna mengingat pedihnya tragedi yang terjadi kepada perempuan dan umumnya kepada seluruh rakyat yang tertindas atas penyelewengan kuasa.


Komentar

Postingan Populer