Akhir Pekan Yang Tidak Pelan-pelan
Dan di penghujung akhir pekan, Jakarta dan sekitarnya basah sedari siang tadi. Memang tidak bisa bersantai barang sejenak, hari-hari menunggu hari Minggu, ketika tiba, ia pergi terburu-buru.
Kemarin, hujan dimulai tepat pada pukul sembilan malam, entah sampai jam berapa aku tak tahu, tapi ketika subuh cukup terang meski matahari datang terlambat setelahnya. Aku yakin hari ini akan cerah dan panas, maka kukumpulkan semua pakaian kotor, kupilah mana yang sudah teramat bau harus dibasuh terlebih dahulu, kusiramkan air dalam mesin pencuci yang bukan untung uang, tak lupa detergent agak bersih dan wangi, kunyalakan, kutunggu sembari membaca buku, Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan. Satu jam setelahnya dalam keadaan setengah kering, kunaikkan jemuran, kupimpin para pakaian agar berbaris rapi biar disiplin juga nanti di lemari, kususun sedemikian rupa, dari kiri dengan barisan celana hingga ke ujung kanan terjejer sarang pejantan.
Cukup damai hari ini karena tidak esoknya, meski ujian sudah rampung kemarin ternyata ada tugas yang belum kutengok-tengok lagi, teriris hati ini. Awalnya aku berniat melanjutkan sedikit bacaanku pagi tadi karena sudah di penghujung bab, lalu malah teringat deadline proposal harus selesai tiga bab. Kurasa apa pun akan kukerjakan selain mengerjakan proposal sialan itu. Terbukti tak kubaca lagi semua buku yang kusuka karena kumemilih merapikan kamar, menyusun buku-buku yang berceceran, menyapu-mengepel, terus selesai tepat pukul sepuluh kurang dan kutertidur, lalu dibangunkan oleh Tuhan dengan airnya yang mengalir menembus lubang-lubang atap kemudian tertuang di wajahku.


Komentar
Posting Komentar